Tampilkan postingan dengan label ESSAI *mh. Tampilkan semua postingan
Membangun Indonesia : Mulai Mengambil Peran


Oleh : M. Muinul Haq
            Kita selalu menunggu sembari menyalahkan tentang siapa aktor-aktor dan apa faktor yang membuat negara ini terpuruk. Dari satu kalimat hingga menjadi beberapa paragraf kita begitu lancar menyebutkannya. Gara-gara Si dia, mereka, karena factor sistemlah, perekonomianlah, dan lain sebagainya kita sudah sangat fasih menyebutkannya. Lantas apa yang berubah dari itu semua?. Negara ini akan maju dengan saling menyalahkan?. Kita akan sepakat mengatakan tidak!.
Rasulullah sudah jauh hari mengatakan bahwa kelak ada seseorang yang tangguh yang akan mendobrak konstantinopel, dia adalah seorang  pemimpin terbaik, prajuritnya adalah yang terbaik pula. Tersirat dari hal ini adalah bahwasanya pemimpin, negara, sistem dan rakyat adalah hal yang saling terkait, semua elemen harus sama baiknya.  Ini bukan tentang saling tuding-menuding siapa dalang masalah. Sepihak mengatakan pemerintah tidak becus bertugas, sistem yang sudah tidak layak, dan pernyataan-pernyataan lain yang menyulut pertengkaran. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah maukah kita keluar dari masalah kenegaraan ini? Maukah kita ikut berperan membangun kembali Indonesia kita?
Kita semua harus sepakat akan satu hal. Bahwa kita semua bertanggung jawab memajukan negara ini, menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman kita dalam bertindak,  dan menyadari bahwa perubahan itu, kemajuan itu, dimulai dari diri masing-masing. Seperti kata Anis Matta kita harus menjadi otaknya Indonesia, tulang punggung dan juga hatinya. Maka kita harus bertekad menjadi bagian dari perubahan besar ini, kemajuan pesat ini, dengan memulai mengambil peran.
1.   Berperan sebagai panutan keluarga
Bahwa kita menjadi seorang kakak yang baik bagi adik-adik kita merupakan satu peran penting. Mengajarinya sahalat, mengaji, menghafal Al-Quran, berbakti pada orangtua, Mengabdi pada agama, masyarakat, dan Negara. Kelak adik-adik kita tahu berperan sebagai kakak yang baik adalah demikian. Ini akan terus tertular, maka sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang seluruh anak lahir sebagai kakak yang baik. Menikah, lalu membentuk keluarga dan jadilah keluarga yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.
 
2.   Berperan sebagai “solusi” di masyarakat
Kita terlalu sering menunggu. Sedikit-sedikit menunggu, selalu demikian. Ada masalah menuggu seorang pahlawan datang lalu membereskannya. Terkadang dalam masa penantian pahlawan itu, kita terhanyut dan tidak sadar akan masalah yang kian menumpuk. Masyarakat sudah bosan. Mereka butuh solusi. Maka jadilah pahlawan itu. Jadilah “solusi” itu. Solusi atas masalah-masalah yang dililit rakyat. Bahkan menyingkirkan duri di jalan adalah tingkatan iman ‘kan? Pahala bukan?. Maka berperanlah di masyarakt dengan baik. Jadilah sebuah solusi yang nyata bagi mereka. Kelak semua orang akan meniru kebaikan itu, berekembang dan menjadilah masyarakat yang peka, peduli terhadap masalah. Setiap orang akan menjadi pahlawan bagi sesamanya. Lahirlah masyarakat yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.

3.   Mengabdi pada bangsa
Sekelumit permasalahan negeri ini teratasi dengan hal sederhana. Mengabdi sesuai dengan keahlian dan kesanggupan kita masing-masing. Seorang Mahasiswa mengisi tarbiyah, liqo, ta’lim atau menagajar ngaji, itu sebuah peran penting. Kelak akan hadir sosok-sosok muslim yang semangat membangun negeri ini, agama ini. Seorang yang mendedikasikan waktu kuliahnya untuk membina satu desa, mengajar di sana, membantu warga di sana, itu sebuah peran penting bagi bangsa. Membantu mengatasi masalah klasik masyarakat “mengisi perut”. Atau membantu membangun jalan, membangun fasilitas umum, membersihkan lingkungan, membuat inovasi, mengajar, dan semua hal yang akan mengisis perlahan permasalahan bangsa ini. Hingga akhirnya kita semua merasakan kesejahteraan dan ketentraman hidup di negara ini dengan keluar dari masalah-masalah tersebut. Intinya adalah mengambil peran. Lahirlah bangsa yang baik. Dan kebaikan adalah bagian dari keislaman.


Maka jangan memimpikan Indonesia akan bangkit dari krisis, berubah kea rah yang lebih baik, maju dari segala sisi, jika tidak bertekad untuk ikut berperan. Jadilah bagian dari perubahan itu. 

Jika sebagian besar orang mengidentikkan februari dengan bulan kasih sayang, dengan hari ke-14 sebagai tanggal sakralnya, lain lagi dengan pemuda-pemudi muslim pecinta tarbiyah ini. Di saat kaula muda sebayanya aktif merayakan 14 februari sebagai hari valentine, mereka justeru aktif mengkampanyekan 14 februari sebagai world hijab day atau hari menutup aurat sedunia. Bagaimana? Luar biasa bukan. Mereka adalah siswa-siswi SMAN 1 Maros yang aktif dalam kegiatan melingkar(baca:tarbiyah) dan ekstrakulikuler Ikramulla (Ikatan Remaja Mushalla Ulul Albab). Beberapa tahun terakhir mereka rutin mengadakan aksi di pinggiran jalan poros Makassar-Maros untuk mengkampanyekan kepada masyarakat akan pentingnya hijab atau menutup aurat. Aksi ini dilakukan dengan membagikan selebaran dan bunga berisi kampanye 14 Februari sebagai gerakan hari menutup aurat sedunia, masyarakat diajak untuk berbondong-bondong menutup aurat dan tak lupa mengajak orang-orang di sekitarnya untuk mengikuti jejaknya.
Kita tahu bersama bahwa perayaan valentine adalah budaya barat dan nasrani. Perayaan yang berdasar pada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi Kuno dimana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine. Ini sudah jelas bukan merupakan tradisi islam atau suatu hal yang dianjurkan oleh nabi untuk dilakukan. Bahkan sudah jelas bahwa barang siapa yang melakukan kegiatan suatu kaum, maka mereka termasuk di dalamnya. Maka dari itu perhatian kaum muda terhadap perayaan ini musti di ambil alih oleh gerakan hari menutup aurat sedunia, di dalamnya sudah jelas berisi kebaikan berupa imbauan kepada masyarakat untuk menghargai dirinya sendiri dengan berhijab syar’i. 

Nah, bagi kalian yang ingin bergabung dengan Aksi ini bisa kok. Caranya dengan mencantumkan di status fb kalian juga tweet dengan hastag #WORLDHIJABDAY #GerakanMenutupAurat dan ajak teman-teman kalian untuk mengkampanyekan hari menutup hijab sedunia dan katakana TIDAK pada valentine. Dapat juga ikut turun aksi tanggal 14 Februari bersama teman-teman SMANSA.
Semangat “Hijab, my right, my choice, my life” 
    

Bismillahirrahmanirrahim .
                Tulisan ini terkhusus bagi Anda para mahasiswa yang disibuki dengan bejibun laporan yang harus diasistensi ke dosen. Lebih terkhusus lagi kepada teman-teman seperjuanganku di Politeknik Negeri ujung Pandang. Di tengah kesibukan organisasi yang begitu padat, juga jadwal kuliah yang sama padatnya, kamu masih harus meluangkan waktu yang lebih banyak lagi dari pada dua aktivitas itu untuk asistensi. Wah, terbayang gimana repotnya masa tak berseragammu. Saya nulis ini berdasarkan pengalaman pribadi yang hidup di dunia perkuliahan yang begitu menuntut. Bagaimana tidak ? di satu sisi kita di gembleng untuk bisa berpola pagi-malam, pergi pagi buta pulang malam-malam, untuk mengejar akademisi, meraih IP setinggi-tingginya, karena itu yang membuktikan bahwa kita “layak pakai”.  Di lain sisi kita juga dituntut untuk aktif berkecimpung di dunia organisasi, komunitas, atau kegiatan semacamnya di luar kegiatan akademik. Hal itu dinilai sangat penting agar mahasiswa mampu bersosialisasi dengan baik, melatih kemampuan manajemen tanpa teori, atau kemampuan menjadi leader yang begitu penting saat memasuki dunia kerja. Sungguh begitu menuntut kita para mahasiswa agar tak mudah lelah, punya kekuatan super untuk melakukan dua hal tersebut yang sama-sama menuntut. Ini belum cukup, sebab di antara rutinitas akademik, terdapat mata kuliah praktek yang menuntut lebih, mewajibkan laporan praktikum sebagai syarat lulus mata kuliah.
Dari sini mahasiwa harus kembali memutar otak mengatur manajemen kesehariaannya, karena laporan tersebut tidak hanya sekedar di buat, namun harus melewati deretan asistensi setiap babnya. Beruntung jika dosennya hanya satu, namun jika lebih kamu harus lebih cerdas memutar otak agar laporanmu cepat di “ACC” . Kamu harus mensiasati agar kata ACC cepat terpajang di lembar asistensimu. Masalah tebesar muncul karena jadwal asistensi yang tak menentu, kamu harus jeli melihat peluang, karena dosen akan meladeni kita untuk asistensi saat waktu mereka luang. Maka kita harus betul-betul memanfaatkan setiap waktu luang mereka, padahal kita pun tidak punya banyak waktu luang untuk menunggu mereka siap untuk meladeni asistensi. Maka dari itu saya menulis ulasan ini yang berisikan tips juga trik ampuh sukses asistensi dan sukses mendapatkan kata “ACC” di lembar asistensimu. Let’s Check it out . .  !!!
Pertama, jika Kamu berkelompok, kamu harus tahu karakter dan kesibukan kalian masing-masing, pilih salah seorang diantara kamu untuk menjadi leader, jangan sembarang pilih, atau saling menunjuk karena tak ingin terbebani. Ini sangat penting agar dapat mengontrol setiap laporan yang akan kalian asistensi, dan kesiapan anggota itu sendiri. Mungkin jika kalian perorangan akan lebih mudah, karena bekerja individual tanpa harus peduli terhadap rekan kalian, karena dia akan menyelesaikan laporan itu sendiri. Namun jika berkelompok, kalian harus kompak, bekerjasama demi selesainya laporan kalian. Maka setiap anggota kelompok harus saling mengerti dan mengetahui satu sama lain. Saling mengontrol satu sama lain, pembagian pengerjaan laporan pun harus merata, sehingga semua anggota kelompok terbebani sama rata. Begitupun ketika hendak asistensi, kalian harus saling menghubungi untuk hadir asistensi, karena jika tidak, salah satu teman kelompok kalian akan tidak hadir dan membuat masalah baru. Syukur jika dosen tidak mempermasalahkan ketidaklengkapan anggota kelompok, jika ia maka Anda gagal lagi dalam asistensi. Jadi kekompakan kalian dalam tim harus terjalin, pilih leader  yang mampu mengontrol, dan saling memahami agar asistensi kalian berjalan lancar.
Kedua, kamu harus mengetahui segala seluk-beluk mengenai dosen asistensi kalian. Amati segala kebiasaannya, dari tingkat kehadirannnya di kampus, waktu makannya, waktu jeda istirahatnya, waktu luangnnya, waktunya untuk shalat/beribadah, waktunya untuk pulang dan yang terpenting adalah waktu “mustajab” di“AAC”nya laporan. Ya, kamu harus tahu waktu “mustajab” itu, saat laporan kamu mudah diijabah ACC oleh dosen. Untuk mengetahui itu tentu tidak mudah, kalian harus betul-betul mengenalinya. Terkadang ada dosen yang mudah mengACC laporan saat pekerjaannya menumpuk, kalian harus hadir pada momen itu, memanfaatkan waktu itu agar laporanmu ACC.   Namun ada juga yang sebaliknya, justru marah jika lagi sibuk-sibuknya kerja sesuatu diganggu lagi dengan aisstensi, kamu harus tau betul tentang dia. Kamu harus tahu segala tentangnya, kebiasaannya, hal yang tidak dia sukai. Aku punya satu trik, tapi ini tidak berlaku untuk semua dosen. Jika suatu ketika Ia terlihat bersiap-siap untuk pergi, beranjak dari meja dosennya, kamu harus datang menghadapnya untuk asistensi. Pasang muka memelas, memohon tentu dengan cara yang sopan, agar Ia iba dan buru-buru mengasistensi laporanmu, Insya Allah akan diACC. Percaya deh, karena Dia lagi buru-buru mau pergi. Kamu harus pelajari trik ini.   Eh, dan mesti juga kalian menghafal plat nomor kendaraan dosen asistensi kalian, agar tahu dia ada di kampus atau tidak.   
Ketiga, jangan pernah bosan untuk menunggu. Ketika kamu sudah lelah menunggu sejak pagi hingga siang hari, jangan berandai bahwa hari ini dia tak berkesempatan untuk mengasistensi laporanmu. Tetaplah menunggu, siapa tahu sore dia bisa. Jangan pernah berpikir untuk pulang, tetap berpikir positif bahwa kamu bisa mengasistensi laporanmu hari ini. Memang bagian yang sulit bukan dipengerjaan laporannya, tapi di aktivitas menunggu dosen asistensi. Untuk asistensi saja kita mesti menunggu dan berlomba dengan mahasiswa lain yang juga ingin asistensi.
Keempat, jangan pernah asistensi saat dia sedang asyik berbicara dengan dosen lain. Ini akan berakibat fatal, karena rata-rata dosen tak ingin diganggu pada saat dia sedang mengobrol. Dosen akan langsung menganggap kalian kurang ajar atau tidak sopan, ini akan berakibat pada moodnya, seketika ia akan sinis kepadamu juga laporanmu dan pasti akan sulit untuk ACC. Sungguh, kamu harus cepat dan sigap, jika dosen asistensimu perempuan akan sangat berbahaya jika dosen perempuan lain menghampirinya untuk “ngerumpi”. Wah, kamu akan menunggu sangat lama untuk itu. Makanya kamu harus lebih sigap menghampirinya untuk asistensi, sebelum mereka membuat kalian menunggu sangat lama.  Jangan pula bertanya tentang asistensi saat dosen kalian sedang jeda shalat. Percaya deh .
Kelima, perhatikan penampilan kalian saat hendak asistensi. Jangan sekali-kali asistensi dengan penampilan “vulgar”nya mahasiswa. Kaos oblong, rambut gondrong, celana bolong, otak kosong, dan berbagai ong-ong lainnya. Apalagi menggunakan sandal jepit, dosen akan langsung muak denganmu. Usahakan berpenampilan rapi di depannya, munculkan wajah fresh jangan lusuh. Jaga senyummu, dan jika ia agak terbuka, ajak berkomunikasi, mengobrol dengan santai, kamu harus cerdas untuk dekat dengannya, seramah mungkin, agar tentunya asistensimu dapat berjalan lancar dan kata ACC dapat tertulis di lembar asistensimu.
Keenam, kamu harus berhati-hati dengan alasan dan “tipuan” dosen untuk menunda kalian asistensi. Dia mungkin akan menguji kesabaran kalian dengan berkata “sebentar dulu, saya baru datang, bla blab la “, atau berkata “ saya mau mengajar dulu”, “saya mau rapat”, “saya ada urusan di luar”, “tunggu sebentar”. Kamu harus bersabar dengan “cobaan” ini. Tetap tunggu ia hingga sore hari jika memungkinkan, dia mungkin hampir tidak lagi memikirkan waktu kalian luang atau tidak, yang pasti mereka ingin menyesuaikan waktu kosong mereka dengan waktumu untuk asistensi.
Ketujuh, tetap semangat . J

  Semoga tips dan trik ini dapat memantik kesuksesanmu dalam dunia perasistensian. Jangan pernah menyerah untuk kata ACC ! . J



Nama                    : M. Muinul Haq
Alamat                  : Kompleks Pesantren Darul Istiqamah pusat, Maros. Km. 25,5
Social Network      : FB : Muinulhaq, twitter : @muinulhaq 
Motto Hidup         : “ Ukir masa depanmu sejak dini, tata mimpi-mimpimu, dan bersemangatlah meraihnya, dan jika suatu saat kau tersendat, ingatlah bahwa Allah bersamamu”
Cita-cita                : Kontraktor Muslim – Direktur Utama dan Founder PT. Built IT, Penulis Fiksi Islam, Motivator . 
DAPUR TOWR VI
Oleh      : M. Muinul Haq



Aku masih tidak percaya dapat menulis seperti ini. Bahkan hingga tulisan ini selesai, Aku masih tidak menyangka akan dapat seperti ini. Sungguh, rekaman akhir desember dan kenangan bersamanya dalam TOWR VI begitu menginspirasi. Setiap dorongan selalu hadir di benakku, berulang, seakan terus berkomat-kamit memotivasiku untuk terus menulis, membaca, bedakwah. “write your story, create your glory”, suatu petikan yang menggelitikku di awal, bahwa mengapa kita harus menciptakan kemenangan dengan menulis kisah kita ?. Toh, kita bisa menggapainya dengan menggenggam dunia lewat temuan kita, di bidang kita. Lalu hari demi hari Aku belajar banyak hal di dalamnya. Bahwa menulis adalah saat di mana kamu berkontribusi merekam jejak sejarah. Sejarah siapa ? tentu sejarah dirimu, bahwa kamu itu ada. Bukan hanya seonggok daging yang bernyawa lalu mati membangkai begitu saja, namun engkau berkontribusi dengan penamu, dengan tulisan tentang duniamu saat ini. Dan kelak akan menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang di sekitarmu juga anak-anakmu dan diteruskan kepada cucu-cucumu. Itulah kemenanganmu. Aku masih terus bermimpi bahwa legenda pribadiku akan tercipta lewat menulis, semua berawal dari jejak-jejak basahku di TOWR VI Bantimurung.
Aku memandang TOWR dari satu sudut di bilik sebuah rumah bertemakan Islami. Rumah yang teduh, sederhana berlatarkan hamparan karst, banyak hijau menyelimutinya. Bilik di dalamnya merupakan sekat yang memisahkan dapur dengan ruang makan, terdapat satu celah selebar dua orang dewasa yang menghubungkannya. Penghuni rumah bergantian memasak dan menyediakan makanan, melewati bilik itu. Begitu ramah para penghuni rumah ini, sesekali mereka bercerita tentang indahnya berdakwah lewat hitam di atas putih, sebuah pena dan kertas menyelamatkan dunia dari mirisnya buta huruf dan mengajak orang untuk dekat dengan agamanya. TOWR adalah dapur itu sendiri, yang memiliki banyak komponen di dalamnya. Rumah itu tetap ada, namun dapur ini bertahan hanya tiga hari lamanya dalam setahun, anehkan ?, karena kita menginginkannya ada di setiap hari sepanjang tahun. Setiap materi kepenulisan adalah sebuah kompor, kuali dan sendok. Motivasi, semangat, ibadah, dan cinta adalah bumbu-bumbu penyedap milik penghuni rumah. Aku dan delapan puluh dua orang lainnya berada di dalam kuali bersama dengan pena dan lembaran kertas juga minat menulis kami. Melebihi warna pelangi, bahkan lebih beraneka dari bahan masakan. Kami memiliki warna masing-masing, dan mewakili bahan masakan yang beragam. Rentang waktu kami untuk masak pun berbeda-beda, serupa kentang dan kola tau lobak dan lengkoas. Kokinya tentu kakak-kakak panitia, penghuni rumah yang mondar-mandir melewati bilik itu.
Wah, terlihat kepiawaian kakak-kakak panitia dalam memasak, penghuni rumah yang tahu kapan mengecilkan api dan kapan membesarkannya, atau kapan memberi garam dan kapan memberi gula. Hujan, gerimis, dan kehangatan, kuali ini terasa begitu nyaman, sungguh, terasa ada ikatan yang kuat antara kami dan sang koki. Di dalam kuali ini kami bereaksi, bukan hal yang mudah untuk mematangkan diri, api TOWR akan terus ada di bawahnya, tinggal kita yang bereaksi, membaca, menulis, membaca lagi, menulis lagi, seolah ada harmoni yang mengaitkan keduanya.
Training Of Writing and Recruitment FLP SULSEL telah mewadahi kita, selama tiga hari dua malam lamanya, panitia telah membuat banyak jejak antara dapur dan ruang makan, belum lagi kepanikannya mencari tambahan bumbu di pasar, tak ada wajah lelah terpampang di wajah mereka, entah sehebat bagaimana mereka menyembunyikannya. Wajah berseri-seri, ramah, dan ikhlas begitu jelas saat mereka mengaduk kuali, memastikan semua bumbu-bumbu motivasi tercampur, sesekali dicicipnya tulisan kita dalam kuali, tak ada cibiran, hanya tambahan motivasi untuk berkarya lebih baik lagi, untuk tidak puas hanya sampai di situ.
Sekarang sebenarnya adalah waktu makan bagi mereka, panitia, mas Gegge dan yang lainnya untuk mencicipi tulisan-tulisan kita. Gurihkah ? Matangkah ? Renyah ? Asin mungkin ? atau masih hambar, sudah saatnya mereka mencicipi hasil jerih-payah tiga hari dua malam itu. Mas Gegge akan kembali memastikan bahwa api kita tetap ada, entah itu kecil maupun besar, yang pasti belum padam oleh hujan atau pemadam kebakaran yang menemui kita.
“Kita cek api semangatnya yaa . . “
“TOWR VI . . ”
“WRITE YOUR STORY, CREATE YOUR GLORY”
“FLP SULSEL”
“INSYA ALLAH BERJAYA”

Maaf ya kak, Aku masih harus dimasak. Belum matang dan masih terasa hambar.


Manajemen “Jam Karet”
Oleh : M. Muinul Haq
                Aku menulis tentang  “jam karet” ini karena terlalu sering menjadi korbannya, juga terkadang menjadi pelakunya. Kita mungkin sepakat bahwa pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu. Ya, menunggu memang melalap habis mood kita, membuang setiap waktu yang telah kita jadwal sedemikian rupa. Akibatnya, susunan kegiatan kita pada hari itu, seketika buyar, amburadul oleh “jam karet” pelaksana kegiatan yang sedang kita ikuti. Boleh jadi Indonesia yang merupakan salah satu penghasil karet terbesar di dunia juga menjadi pengguna “jam karet “ terbesar . Ini bisa jadi penelitian, apakah ada hubungan antara keduanya. Tak dapat dipungkiri budaya “jam karet” masih sangat kental di Negara kita. Mulai dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas sekalipun masih memegang teguh kebiasaan buruk ini. Memang masih menjadi kelangkaan di Indonesia, orang yang konsisten terhadap waktu, masih begitu minim orang yang pandai mengatur waktu. Orang yang menghargai waktu masih sulit untuk didapat.
                Jalan keluar bagi kebiasaan buruk ini tentu adalah kesadaran pribadi. Setiap pribadi mesti sadar akan buruknya kebiasaan ngaret ini, dan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari hal ini. Namun jika hanya menunggu hal ini disadari oleh semua orang tentu hanya seperti berkhayal buah yang lezat dari sebuah pohon, namun enggan merawat dan memberinya pupuk . Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya akan mengenalkan satu solusi akan hal ini. Meminimalisir “jam karet” dengan kebijakan ‘Iqob . Sebagian dari Anda mungkin sudah mengetahui hal ini. ‘Iqob adalah kebijakan pendendaan kepada seseorang yang melanggar suatu aturan yang telah ditetapkan. Jadi setiap orang yang terlambat alias masih menggunakan jam karet di tangannya, dia akan membayar ‘Iqob atau denda sesuai dengan kesepakatan yang berlaku. Jika kegiatannya berupa seminar, workshop, bedah buku dan semacamnya, jika kegiatan tersebut molor alias ngaret maka panitia wajib membayar ‘Iqob atau denda kepada peserta yang telah meluangkan waktunya untuk hadir. Memang diawal terkesan memaksa, materialism, atau semacamnya, namun ini bisa sedikit mengajari kita untuk menghargai waktu. Di organisasi saya, KAMMI Komisariat Politeknik Negeri Ujung Pandang, berlaku ‘Iqob bagi kader yang terlambat hadir dalam syuro atau rapat pekanan, maupun berhalangan hadir kecuali dengan uzur yang syar’I dan itu wajib untuk dikonfirmasi kepada PJ atau penanggung jawab syuro . Apa ‘Iqob yang telah kami sepakati ? . Yakni berupa sanksi keterlambatan lima ratus rupiah setiap lima menit keterlambatan dan hafalan surah tiga ayat. Pundi-pundi rupiah akan masuk ke KAS organisasi dan hafalan surah harus disetor ke murobbi masing-masing. Bagi yang tidak hadir dalam syuro tanpa member kabar kepada PJ wajib membayar ‘Iqob sebesar dua ribu upiah dan hafalan surah sebanyak lima ayat.

                Memang diawal diterapkannya menemui banyak hambatan, juga perselisihan, namun ini mengajarkan kita untuk peka terhadap pentingnya waktu. Allah telah menekankan ini dalam firman-Nya “ Demi Waktu”. Bahwa banyak manusia yang akan rugi terhadap waktu yang telah disediakan untuknya. Kita juga sering mendengar tentang sahabat yang ketika dilalaikan waktunya oleh pekerjaannya, entah itu kebunnya, ladangnya untuk menjawab seruan Allah untuk shalat, ia menyerahkan seluruh hasil kebunnya maupun ladangnya untuk islam. Karena mereka berpikir ini sebuah ‘Iqob  karena ngaret dalam menjawab seruan-Nya. Nah, kalau kita bagaimana ?, jangankan panggilan Allah, panggilan syuro, rapat, seminar, bedah buku saja yang waktunya telah disepakati jauh-jauh hari kita masih sering terlambat, kita masih setia menggunakan “jam karet” . Semoga kebijakan ‘Iqob ini bisa kita terapkan bersama, atau mungkin kita bisa modifikasi namun tetap pada satu tujuan pasti yakni agar kita semua bisa menghargai waktu. Seiring berjalannya waktu, kita akan terbiasa dengan ketepatan waktu karena ‘Iqob  ini. Dan lama kelamaan kesadaran itu akan tumbuh, kita tidak lagi ngaret bukan karena menyayangkan uang kita lepas atau kelelahan menghafal ayat, namun karena kesadaran bahwa waktu memang harus dimanfaatkan dengan baik. 
                Hemm, , kita sudah lama belajar, namun seringkali kita tidak peka untuk belajar pada hal-hal kecil di sekitar kita. Kita mungkin sering mendengar ungkapan tentang betapa pentingnya belajar. Belajar hingga ke negeri china, atau belajarlah walau itu dari mulut harimau sekalipun. Namun kali ini kita tidak akan belajar di china atau mengambil pelajaran dari mulut seekor harimau. Kita akan belajar sedikit dari keunikan suatu makhluk yang dijuluki manusia. Yansen sapanya, teman sekelas saya saat ini di Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang. Dia bukan seorang ilmuan yang meneliti dan menghasilkan ribuan penemuan, ataukah seorang petualang yang menjelajahi dunia sehingga melek pengalaman dan pengetahuan yang didapatnya. Dia hanya mahasiswa biasa yang memiliki keunikannya tersendiri. Sungguh, pribadinya begitu unik, entah sejak kapan keunikannya ini muncul, yang pasti saat ini kami begitu menikmatinya. Keunikan dirinya terletak pada senyumnya .






 Dia menjadi terkenal di kampus karena senyumnya ini. Bahkan senior menciptakan sorakan untuknya, saat disebut namanya kita semua harus serentak menjawab “ TETAP SENYUM SENIOR”. Entah bagaimana orang lain menilai atau memandang senyumnya itu, maniskah ?, khaskah ?, anehkah ?, namun aku memiliki pandangan lain akan senyumnya. Aku sempat tidak enak hati ikut tertawa karena julukan “senyum terus-menerus” seperti melekat di dirinya, orang-orang mungkin menyadari bahwa Yansen selalu tersenyum yang hampir mirip tertawa padahal tidak ada sesuatu yang mendasarinya. Mungkin saja Yansen memiliki sesuatu tersendiri untuk dia senyumi atau tertawakan di benaknya, yang kita tidak tahu akan hal itu. Sehingga senyumnya itu terus melekat, merekah, tak peduli situasi apapun, dia hanya terus tersenyum dengan indahnya. Dan Aku melihat pelajaran berharga dari keunikannya ini, tentu tentang betapa mulianya senyum .
                Kita yang muslim tentu pernah mendengar tentang keutamaan senyum. Senyum adalah sedekah, kita mungkin sudah tahu sejak dulu. Namun orang yang kita belajar padanya ini adalah seorang kristiani, entah apakah di agamanya juga terdapat keutamaan senyum, namun yang pasti dia mengajak kita untuk menebar senyum. Senyum yang tulus, ikhlas, tanpa memandang siapa yang kita beri “sedekah” . Bahkan saat suasana hati kita sedang kacau, sedih, atau marah sekalipun. Pernah suatu ketika kita semua sedang berdebat tentang suatu hal, lalu kemudian Yansen datang mengungkapkan pemikirannya sambil terus tersenyum, hal itu membuat saya ikut tersenyum sambil sedikit menahan tertawa, suasana yang tadinya tegang seketika mencair. Sekali lagi senyumnya meneduhkan kami semua.
Kita dapat belajar darinya bahwa senyum yang kita tebar harus senatural mungkin, tanpa niatan aneh apapun, spontan dari hati yang menggerakkan bibir agak melebar naik, mulut agak terbuka, tak peduli gigi kita bagus atau tidak, agar orang-orang disekitar kita yang melihatnya dapat teduh, tenang kembali.

Eh, terakhir foto di atas itu hanya kebetulan saja dia tersenyum, aku mengambil foto ini agar sinkron dengan pembahasan saya, hehehe, entah kenapa jika berpose di depan kamera dia urung untuk melihatkan senyum manisnya, eh manisnya salah ucap :D . 
Catatan Mahasiswa Labil : Aku dan Tahun Depan
Oleh      : M. Muinul Haq
                Baiklah, bercerita tentang pergantian tahun berarti identik dengan perubahan, tentu ke arah yang lebih baik. Kalau tahun ini kamu jarang mandi, minimal tahun depan sekali seminggulah diluangkan waktu untuk mandi. Kalau tahun ini jarang belajar, tahun depan target bisa sekali dua minggu boleh juga . Kalau tahun ini malas baca buku, minimal tahun depan cukup liat-liatan sampul buku sudah lumayan. Kalau tahun ini shalatnya bolong-bolong, tahun depan tambal deh tuh. Kalau tahun ini tidur paginya merangkap tidur siang, tahun depan usahakan bangun menjelang siang. Tapi sekali lagi ini hanya planning, rencana kita untuk merefleksi pergantian tahun. Sebenarnya ini sudah saya lakukan dari beberapa tahun yang lalu setiap akan memasuki pergantian tahun. Saya catat deh tuh target-target yang ingin dicapai lengkap sama kebiasaan-kebiasaan oran gila, eh buruk maksudnya yang ingin dihilangkan.

                Dan inilah tingkat semangatku diukur dari SEMANGATMETER
Minggu pertama awal tahun: 100 %,
Minggu pertama semangatnya luar biasa, dari menyusun jadwal kegiatan tiap hari, menyibukkan diri di kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, tidur teratur, makan teratur, olahraga rutin, ibadah sudah pasti, mandi cukuplah, tugas-tugas rumah maupun akademik lancar, pokoknya minggu ini semangatnya luar bisa dalam melangkah, kebiasaan-kebiasaan buruk di tahun kemarin mulai di tinggalkan, betul-betul memperbaharui diri, hidup jadi lebih teratur.
Bulan pertama awal tahun : 70 %
                Perlahan-lahan semangat untuk lebih baik itu mulai pudar, jadwalnya mulai amburadul, banyak waktu yang terbuang sia-sia, bulan ini mulai lemah dalam melangkah, mulai terasa letih, langkah-langkahnya perlahan lunglai.
Bulan ketiga : 0 %
Bulan ini semua kembali seperti semula, tidak ada lagi jadwal-jadwal kegiatan, semuanya berantakan, lebih asyik nonton film, baca komik, main game, sudah beralih dari kegiatan-kegiatan positif, tugas dikebut semalam, makan jadi tidak teratur, shalat sering masbuk(menjadi masbuker), jarang mandi, itupun kalau mandi cuma cuci-cuci kepala, olahraga jangan ditanya, tidak ada waktu buat itu, pokoknya sudah pura-pura lupa sama janji di awal tahun untuk jadi lebih baik.  
Agar tulisan ini bisa agak layak untuk dibaca maka aku akan sedikit sok bijak menyikapi keadaan di atas, mengapa setiap tahun yang ada di depanku tak ubahnya tahun-tahun kemarin, tidak ada perubahan, kalaupun ada ya tidak begitu signifikan. Ada banyak alasan mengapa hal ini terjadi, check this out!. Pertama, masih sulit keluar dari zona nyaman, kita selalu berpikir bahwa hidup ini untuk santai-santai saja, kita tidak berpkir untuk berpenghasilan karena subsidi orang tua terus mengalir untuk kita, kita mengira hari esok masih panjang maka kita terus mengulur-ulur waktu yang kita punya akibatnya tidak ada pekerjaan kita yang beres, kita juga selalu beanggapan bahwa masa depan masih sangat jauh akibatnya masa sekarang kita menjadi tak terarah, malas-malasan, tidak teratur, dan ogah-ogahan untuk lebih baik. Kedua, tidak konsisten, kata orang bijak “panas-panas tai ayam”, hanya semangat di awal, semakin lama semakin menurun sampai hilang semangat . Kita selalu bertekad untuk berubah jadi lebih baik, kita menyusun sedemikian apiknya langkah-langkah kita, lalu menjalaninya, ketika merasa lelah, semangat itu juga mulai redup dan semakin lama kita sudah lupa akan tekad kita di awal. Ketiga, seringkali saya berpkir untuk hidup santai seperti orang lain, ya setiap melihat orang lain bersantai-santai muncul hasrat untuk ikut seperti dia, perlahan mulai goyah langkah-langkah untuk jadi lebih baik, pengaruh dunia luar memang sangat menggangu, akibatnya setiap kali kita ingin berubah di tahun baru ujung-ujungnya bakal kembali melemah dan sama halnya dengan tahun-tahun kemarin.
Sampai di sini dulu tulisan saya mengenai Aku dan Tahun Depan, maaf karena begitu singkat, ini terburu-buru karena deadline waktu yang di berikan FLP, saya terlambat sih dapat info trainingnya, semoga bermanfaat. J





                Pertanyaan ini terus hadir di pikiranku sepanjang perjalanan maros-makassar, bukannya mengejek namun ini adalah tamparan bagi kita semua, tidak hanya pemerintah, kementerian PU, tapi kita semua akan buruknya system irigasi di kota kita. Perjalanan yang biasa kutempuh hanya dalam setengah jam berubah menjadi hampir sejam bahkan sejam lebih jika hujan deras yang lebih layak disebut badai menghantam kota. Keterlambatan waktu tempuh ini disebabkan beberapa hal terkait buruknya sistem tata kota, sistem irigasi, maupun perencanaan jalan. Aku mencatat setidaknya terdapat  lebih dari lima titik genangan air sepanjang poros Makassar-maros, ini yang menyebabkan kemacetan yang cukup parah disepanjang jalan, tadinya kupikir jalanan akan plong karena hujan namun ternyata aku salah, pemuda yang biasanya anti alias malu pake jas hujan jadi singgah untuk berteduh ternyata berpikiran lain, mereka jadi nekat ikut-ikutan basah karena tahu kalau hujan saat ini tidak bisa diperkirakan kapan berhentinya, walhasil jalan jadi padat luar biasa. Jika bisa lolos disatu kemacetan kita akan bertemu kemacetan selanjutnya di titik genangan air, karena mobil-mobil ragu untuk menerobos genangan itu maka kemacetan tak dapat terhindarkan, genangan itu sangat dalam di pinggir jalan dan semakin ketengah akan semakin dangkal, terkadang ada beberapa kendaraan yang nekad menerobos genangan yang berada dipinggir, ada yang berhasil lolos, namun beberapa ada pula yang ketiban sial motornya mogok.
                Aku melihat ada beberapa hal yang membuat jalan ini nampak buruk saat hujan, tentu bukan hujannya yang salah, karena hujan adalah rahmat. Pertama, aku melihat banyak irigasi yang tertimbun, sama sekali tidak meninggalkan bekas, saluran yang semestinya berfungsi menampung lalu meneruskan air ke tempat yang lebih rendah menjadi hilang dan tak termanfaatkan, tentu ini akan berdampak buruk bagi jalan. Bahkan ada bekas saluran irigasi yang dibanguni ruko atau tempat berjualan, maka air yang semestinya dapat keluar dari jalan menjadi tergenang bak danau, sebagian lagi seperti sungai karena mengalir disebabkan karena jalan yang menurun. Kedua, aku menyaksikan banyak irigasi yang dipenuhi sampah, tidak menutup kemungkinan terjadi penyumbatan di sana-sini, banyak pedagang yang tidak memperhatikan kebersihannya, belum lagi pengguna jalan yang seenak udelnya buang tisu, kaleng minuman, bungkusan-bungkusan makanan dan lain-lain yang menyebabkan banyaknya sampah yang berserakan, pernah suatu waktu sampah itu menumpuk dan menggenang di jalan. Ketiga, aku menyaksikan buruknya perencanaan pembatas jalan, terdapat jalan yang lain dari pada yang lain, jalan ini tergenang oleh air namun bukannya yang dipinggirnya yang dalam, melainkan ditengahnya, ini disebabkan karena jalan itu miring, air seharusnya dapat menyebrangi jalan menuju ke arah yang lebih rendah namun terhalang oleh pembatas jalan, akibatnya airnya menggenang di tengah jalan, akibat yang lainnya tahukan ?, yups macet karena kendaraan berfokus pada jalan yang dipinggir untuk menghindari genangan.

                Karena tulisan ini bukan sekedar tulisan yang ingin dibaca namun harus dibaca makanya agak sedikit pedas, tidak hanya kepada pemerintah, bagian tata kota, ataupun kementrian PU, namun juga kepada seluruh pedagang pinggir jalan dan pengguna jalan untuk bersama-sama menyikapi hal ini. Bukan tak mungkin jika hal ini terus dibiarkan jalan yang kita lalui hampir setiap harinya akan berubah menjadi danau ataupun sungai . Sangat merugikan sekaligus aneh bukan ?


Lebih dekat dengan penulis
Nama : M. Muinul Haq
TTL : Maros, 16 juli 1994
Riwayat Pendidikan :
• MI Darul Istiqamah Maros
• SMPN 1 Mandai Maros
• SMAN 1 Maros
• Politeknik Negeri UPG – Teknik Sipil
Riwayat Organisasi :
• Pramuka MI Darul Istiqamah
• Pengurus OSIS, Ketua ROHIS, Ketua PMR SMPN 1 Mandai Maros
• Pengurus OSIS, SGC, Ikramullah SMAN 1 Maros
• Muslim Cerdas(MuDas), KAMMI, LDK Humaniora Motto Hidup : “ Ukir masa depanmu sejak dini, tata mimpi-mimpimu, dan bersemangatlah meraihnya, dan jika suatu saat kau tersendat, ingatlah bahwa Allah bersamamu”
Cita-cita : Kontraktor Muslim – Direktur Utama dan Founder PT. Built IT
Copyright © 2012 MUDA INOVATIF.