Lomba KBM
Engkau bisa saja
berbangga diri telah melancong ke Australia, mencicipi menu makan siangnya,
bergaya di tempat terindah yang kau pilih, lalu kembali melanglang buana. Kini engkau hadir di Beijing, kau katakan
kepada langitnya “Assalamu’alaikum
Beijing, kini aku berpijak di tanahmu, berteduh di bawahmu”.
Tidak sampai di
situ, engkau kembali melancong ke paris,
berpose di depan pencakar langitnya, berbelanja sepuas hatimu di pusat mode,
dan sampai di sini tetap saja engkau patut berbangga.
Wah, sekarang
kau berpijak di Negeri samba, engkau duduk di antara ribuan pasang mata
menyaksikan liga Brazil, oh . . bangganya, tak lupa engkau berpetualang di
hutan yang terkenal itu, ya Amazon tentunya. Engkau kemudian memanasiku dengan berkata “
ini belum seberapa, engkau kira hanya sampai di sini ?”, aku hanya tersenyum
dan engkau melanjutkan celotehmu bla bla bla . . hingga sampai negeri sakura,bercerita
keasyikan di tiap musimnya .lanjutmu
blab la bla . ., berhenti di negara ke
lima puluh tiga Singapur.
Akhirnya engkau
menutup kisah indah nan panjangmu dengan satu rahasia . Engkau katakan kepadaku
bahwa itu semua terjadi karena prinsip yang kau pegang.
Ya . . itu semua
bisa saja, karena kau berprinsip bahwa hidup itu adalah rentetan waktu untuk
menyingkirkan mimpi-mimpi buruk dan me”nyatakan” setiap mimpi-mimpi indah . Lalu engkau dengan bangganya meneriakkan
segala mimpi-mimpimu yang telah nyata. Aku yang tadinya terdiam mendengarmu
berceloteh tertarik untuk berkomentar, “ tarulah itu prinsipmu, namun mesti kau
ketahui bahwa mimpi-mimpimu itu bisa nyata juga gara-gara Indonesia !!” . Ku lirik raut wajahnya yang tadinya sumringah
berubah menjadi cemberut. Aku hanya
melanjutkan komentarku, “Karena Indonesia pahlawan-pahlwan itu berani bermimpi
untuk merdeka“.
”Karena
Indonesia juga mereka bersatu melawan ketidakadilan, kesengsaraan dan
penjajahan” .
“ Karena
Indonesia juga mereka bersedih hati memikirkan bagaimana nasib kita jika tak
berhasil mengusir penjajah”.
“Karena saking cintanya kepada Negara ini
mereka rela meninggalkan kesempatan berkeliling dunia, menyantap nikmatnya sisi
lain dunia, mengagumi indahnya Beijing, menakjubkannya Paris, mewahnya
Australia, dan berbagai kesenangan lain”.
“Jika engkau berprinsip harus menyingkirkan
segala mimpi-mimpi burukmu, mereka yang karena cintanya kepada bangsa terpaksa
menyingkirkan segala mimpi-mimpi indahnya, mereka hanya bermimpi satu hal yakni
kemerdekaan nan indah “.
Aku
berdiri menutup pembicaraan, kuletakkan dua buku di mejanya, kuingat judulnya
gara-gara Indonesia dan No Excuse!, berharap agar dia menghargai Indonesia
dan mimpinya tak berhenti di situ.
(M.Muinul Haq, Kompleks Pesantren
Darul Istiqamah Maros, Makassar, Sulawesi Selatan)

0 komentar: